
Awal tahun kerap datang dengan daftar resolusi mulai dari target baru, pencapaian baru, versi diri yang “lebih baik”. Namun bagi Andien, memasuki tahun ini justru bukan tentang menambahkan lebih banyak, melainkan belajar melepaskan. Melepaskan tuntutan, ekspektasi, dan satu hal yang selama ini diam-diam menguasai hidupnya yaitu dorongan untuk selalu menjadi sempurna.
“Dorongan itu sebenarnya sudah tidak lagi melayani saya,” ujar Andien dengan tenang. Ia menyadari bahwa perfeksionisme, yang selama ini lekat dengan dirinya, bukan sepenuhnya datang dari rumah, melainkan dari sistem sosial yang membentuknya sejak kecil. Sistem yang mengajarkan bahwa nilai diri diukur dari peringkat, pencapaian, dan hasil akhir. “Akhirnya saya jadi kesal kalau ada yang tidak sempurna. Tapi beberapa tahun terakhir, saya melakukan banyak inner work supaya bisa melepaskan itu.”
Proses itu tidak instan. Ia datang perlahan, seiring bertambahnya peran yang Andien jalani sebagai musisi, istri, ibu, sekaligus penggerak sosial lewat fondasi dan sekolah-sekolah yang ia bangun. Di tengah semua itu, Andien mulai memahami bahwa hidup tidak harus selalu dijalani dengan tegang. Bahwa jeda bukan musuh dari produktivitas, justru bagian penting darinya.
Lihat postingan ini di Instagram
Awal tahun kerap datang dengan daftar resolusi mulai dari target baru, pencapaian baru, versi diri yang “lebih baik”. Namun bagi Andien, memasuki tahun ini justru bukan tentang menambahkan lebih banyak, melainkan belajar melepaskan. Melepaskan tuntutan, ekspektasi, dan satu hal yang selama ini diam-diam menguasai hidupnya yaitu dorongan untuk selalu menjadi sempurna.
“Dorongan itu sebenarnya sudah tidak lagi melayani saya,” ujar Andien dengan tenang. Ia menyadari bahwa perfeksionisme, yang selama ini lekat dengan dirinya, bukan sepenuhnya datang dari rumah, melainkan dari sistem sosial yang membentuknya sejak kecil. Sistem yang mengajarkan bahwa nilai diri diukur dari peringkat, pencapaian, dan hasil akhir. “Akhirnya saya jadi kesal kalau ada yang tidak sempurna. Tapi beberapa tahun terakhir, saya melakukan banyak inner work supaya bisa melepaskan itu.”
Proses itu tidak instan. Ia datang perlahan, seiring bertambahnya peran yang Andien jalani sebagai musisi, istri, ibu, sekaligus penggerak sosial lewat fondasi dan sekolah-sekolah yang ia bangun. Di tengah semua itu, Andien mulai memahami bahwa hidup tidak harus selalu dijalani dengan tegang. Bahwa jeda bukan musuh dari produktivitas, justru bagian penting darinya.
Memilih diri sendiri itu tidak pernah salah justru dari situlah kita belajar menyayangi hidup dengan lebih jujur.

Tidak Lagi Terjebak dalam Satu Definisi
Sebagai musisi yang telah melintasi berbagai era, Andien kerap dilekatkan pada satu identitas yaitu penyanyi jazz. Sebuah label yang membesarkan namanya, namun juga sempat membatasi ruang eksplorasi. “Saya sendiri sebenarnya tidak pernah menyebut diri sebagai penyanyi jazz,” katanya sambil tersenyum. Jazz adalah akar, tempat ia merasa pulang, tetapi bukan satu-satunya rumah.
Hari ini, Andien memilih untuk membiarkan dirinya bereksplorasi. Berkolaborasi lintas genre, lintas gaya, lintas energi. “Kita sebagai manusia tidak bisa terlalu rigid. Kita tidak bisa didefinisikan hanya dengan satu peran.” Prinsip ini bukan hanya ia terapkan dalam bermusik, tetapi juga dalam cara ia memandang hidup. Bahwa menjadi perempuan bukan tentang mengotak-ngotakkan diri, melainkan memberi ruang bagi setiap lapisan diri untuk tumbuh.
Antara Sibuk dan Produktif
Di dunia yang memuja kesibukan, berhenti sejenak sering kali terasa seperti kemunduran. Andien memahami betul dilema itu. Ia memang menyukai bekerja bahkan pikirannya kerap tetap berlari hingga waktu tidur. Namun beberapa waktu terakhir, ia mulai mempertanyakan keyakinan lama yang ia pegang bahwa melambat berarti tidak produktif.
“Jangan-jangan selama ini saya hanya sibuk, tapi tidak benar-benar produktif,” ujarnya jujur. Dari proses journaling, meditasi, hingga refleksi tubuh, Andien belajar bahwa jeda bukan hanya boleh, tetapi perlu. Ia membagikan pengalaman jelang konser besarnya ketika tubuh yang dipaksa bekerja maksimal, olahraga setiap hari, pola makan ketat. Setelah konser usai, ia memilih berlibur bersama keluarga, mengikuti ritme tubuh tanpa aturan ketat.
Hasilnya justru mengejutkan. Secara fisik, tubuhnya membaik. Secara mental, ia kembali utuh. “Rest itu sangat dibutuhkan untuk perkembangan,” katanya. Sebuah pengingat penting bagi banyak perempuan aktif yang kerap lupa bahwa tubuh dan jiwa juga butuh ruang bernapas.

Kesuksesan Sebagai Keselarasan
Dalam perjalanan karier dan hidup personalnya, pandangan Andien tentang kesuksesan pun berubah. Jika dulu sukses identik dengan piala, panggung besar, dan angka-angka, kini ia melihatnya sebagai keselarasan. Sebuah kondisi ketika hidup terasa seimbang, meski tidak selalu glamor.
Ia bercerita tentang kehidupannya yang bergerak antara dua dunia yaitu panggung megah dan kampung pemulung tempat ia membangun sekolah. Awalnya, aktivitas sosial itu ia maknai sebagai bentuk memberi kembali. Namun lama-kelamaan, ia menyadari fungsinya yang lebih dalam untuk menjaga dirinya tetap membumi. “Ketika ego tidak mengembang ke mana-mana, konflik dalam diri jadi lebih sedikit,” ujarnya. Bagi Andien, kesuksesan bukan lagi soal seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa utuh ia merasa.

Renewal bagi Andien dimulai setiap pagi. Ia bangun paling awal di rumah, menciptakan ruang sunyi untuk dirinya sendiri. Meditasi, journaling, latihan napas merupakan ritual-ritual sederhana yang ia jalani dengan konsisten. Ia menuliskan mimpi, perasaan, dan apa pun yang mengendap di pikirannya.
Satu kebiasaan kecil yang ia pegang teguh yaitu mengganti pakaian olahraga setiap pagi, terlepas dari jadi atau tidaknya ia berolahraga. “Kalau belum ganti baju, tendensinya saya menunda,” katanya. Detail kecil, tetapi berdampak besar. Sebuah pendekatan yang membuktikan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar, melainkan dari niat yang dijaga setiap hari.
Berdamai dengan Ketidaksempurnaan
Perfeksionisme tidak hilang begitu saja. Namun hari ini, Andien memilih untuk bersahabat dengannya. Dalam salah satu meditasinya, ia menemukan sebuah pemahaman yang mengubah cara pandangnya bahwa resep kegemilangan adalah cinta dan ketidaksempurnaan.
Ia belajar menjalani hidup tanpa menunggu kesiapan mutlak. Karena kesiapan, baginya, sering kali baru hadir setelah langkah diambil. “Tidak ada jalan yang salah,” ujarnya. Setiap pengalaman membawa kebijaksanaan. Setiap kekurangan mengajarkan penerimaan. Hingga akhirnya ia bisa berkata, dengan penuh kesadaran, bahwa ia mencintai ketidaksempurnaannya.

Kesuksesan bagiku hari ini bukan lagi soal pencapaian, tapi tentang keselarasan ketika hidup terasa utuh, apa pun perannya.
Memilih Diri Sendiri Tanpa Rasa Bersalah
Sebagai perempuan yang tumbuh dalam budaya people-pleasing, mengatakan “tidak” bukan hal mudah. Andien pun pernah berada di fase itu ketika merasa jahat hanya karena menolak. Namun melalui proses panjang, ia belajar bahwa memprioritaskan diri sendiri bukanlah bentuk egoisme.
Salah satu momen paling personal terjadi saat ia memutuskan menggelar konser besar, sebuah mimpi yang telah lama ia simpan. Ia duduk bersama suami dan anak-anaknya, meminta maaf karena akan lebih jarang hadir secara fisik, dan meminta dukungan mereka. Respon yang ia terima justru penuh cinta. Anak-anaknya melihatnya sebagai ibu yang berani mengejar mimpi.
“Jangan-jangan kita merasa tidak disayangi karena kita sendiri belum menyayangi diri kita,” katanya lirih. Sebuah refleksi yang relevan bagi banyak perempuan dengan peran berlapis.
Di akhir percakapan, Andien menawarkan satu pertanyaan penting bagi perempuan profesional yang hidupnya tampak baik-baik saja, tetapi terasa hampa: apa intensi di balik semua yang kita lsayakan? Apakah kita bergerak karena cinta, atau karena kebutuhan untuk membuktikan sesuatu?

“Kalau hanya untuk pembuktian, burnout tidak akan pernah selesai,” ujarnya. Reset bukan tentang mengubah segalanya, melainkan menata ulang niat. Karena hidup yang bermakna bukan lahir dari tekanan, melainkan dari kesadaran.
Memasuki tahun baru, Andien tidak datang dengan resolusi muluk. Ia datang dengan kejujuran. Dengan keberanian untuk melambat, untuk menyelaraskan, dan untuk mendefinisikan ulang kesuksesan dengan caranya sendiri. Sebuah pengingat lembut bahwa di tengah dunia yang terus bergerak, kita selalu punya pilihan untuk berhenti sejenak dan pulang pada diri sendiri.

Herworld.co.id merupakan majalah online yang membahas seputar berita lifestyle dan info trend gaya hidup wanita terkini.
