Di antara kerlip lampu dan kamera media di CGV Pacific Place, Jakarta Selatan, Kamis (9/10/2025) sore itu, Andien Aisyah duduk dengan tenang saat konferensi pers berlangsung. Ia berbicara tentang sesuatu yang lebih dari sekadar konser perjalanannya dalam berkarya selama 25 tahun terakhir.
Konser bertajuk Suarasmara: 25 Years of Musical Celebration menjadi cara Andien merayakan dua setengah dekade di dunia musik. Acara ini akan digelar di Istora Senayan, 15 November 2025. Namun, sejak jauh hari, gema emosinya sudah terasa.
”Dua puluh lima tahun itu bukan waktu yang sebentar. Di titik ini, aku ingin kembali ke akar, ke alasan kenapa dulu aku mulai menyanyi,” ucapnya dengan suara pelan, tetapi mantap.
Andien tak hanya melihat konser ini sebagai pementasan besar. Ia menyebutnya sebagai ”refleksi panjang”. Tentang perubahan, penerimaan diri, dan rasa syukur. ”Aku sudah melewati banyak fase dari remaja yang penuh energi sampai ibu yang lebih tenang. Musik selalu jadi cermin perjalanan itu,” katanya.
Di usia empat puluh, ia tidak lagi sibuk mengejar pencapaian. Kini, ia lebih banyak mendengar, lebih banyak mengolah. ”Dulu aku ingin selalu sempurna, sekarang aku tahu enggak harus begitu. Yang penting jujur,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Konser Suarasmara bukan proyek yang dibuat dengan jarak. Andien terlibat dari awal: merancang konsep, menentukan alur, sampai detail kecil yang mungkin luput dari orang lain. ”Mungkin ini konser yang paling personal buatku,” katanya.
Prosesnya sudah dimulai sejak 2022 bersama Redline Production dan promotor Aldo Liputo. Kolaborasi itu makin intens di tahun berikutnya. Aldo mengakui, Andien bukan sekadar artis utama. Ia adalah rekan kerja penuh ide. ”Dedikasinya luar biasa. Andien tahu betul apa yang ia mau,” ujarnya.
Di balik panggung, Andien menggandeng musisi Tohpati sebagai music director. Bersama, mereka menyiapkan empat babak pertunjukan yang menggambarkan perjalanan musikal Andien dari jazz, pop, hingga disko. Setiap bagian punya warna dan emosi sendiri. ”Aku ingin penonton ikut menyusuri perjalanan itu. Rasanya seperti membaca buku hidupku,” katanya.

Konser Suarasmara tersebut tak hanya berhenti di musik. Di luar area utama, pengunjung bisa menikmati pameran dan zona kuliner yang didesain agar suasana terasa lebih akrab. ”Aku ingin mereka datang lebih awal, nongkrong, ngobrol, dan ngerasain kehangatan sejak sore,” tutur Andien.
Di area pameran, sejumlah seniman dan komunitas turut berpartisipasi. Ada Kreaby wadah bagi seniman autistik, Precious Plastic yang mengolah limbah plastik jadi karya, serta Yayasan Fashion Sustainability yang ia dirikan pada 2018. Semua terhubung lewat ide besar: kolaborasi dan keberlanjutan.
”Selama ini aku enggak cuma tertarik di musik atau fashion. Aku peduli pada lingkungan, juga pemberdayaan. Aku ingin konser ini menggambarkan nilai-nilai itu,” ujarnya.
Aspek lingkungan memang jadi perhatian penting dalam perhelatan ini. Untuk pengelolaan sampah dan limbah konser, Andien menggandeng Rekosistem, perusahaan rintisan di bidang teknologi bersih (clean tech) di mana Andien menjadi penasihat selama tiga tahun terakhir. ”Semua limbah dari konser akan diolah kembali. Energi yang terpakai juga akan di-offset. Kami ingin konser ini benar-benar ramah lingkungan,” tuturnya.
Tak berhenti di sana, Andien juga menyalurkan sebagian hasil penjualan tiket untuk pembangunan Sekolah Anak Percaya, lembaga pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga pemulung. Dana disalurkan melalui Andien Aisyah Foundation yang ia dirikan tahun lalu. Kini, sekolah tersebut sudah memasuki pembangunan tahap kelima.
”Kalau bisa, musik bukan cuma menghibur, tetapi juga menolong,” ucapnya singkat.

Setelah dua puluh lima tahun, Andien tidak lagi berbicara soal pencapaian. Ia berbicara tentang makna. Tentang perjalanan yang membuatnya memahami bahwa musik bukan hanya suara, tetapi juga napas hidup. ”Ini bukan akhir, melainkan bab baru,” katanya menutup sesi wawancara.
Sore itu, ruangan terasa tenang. Lampu kamera mulai padam, tapi kata-kata Andien menggantung lama. Seolah ia baru saja mengingatkan kita, dalam setiap perjalanan panjang, yang paling indah bukan puncaknya, melainkan keberanian untuk terus berjalan.

Kompas.id adalah surat kabar nasional Indonesia di bawah naungan PT Kompas Media Nusantara










