Bagi seorang musisi, merayakan 26 tahun perjalanan berkarya bukanlah sekadar tentang merilis deretan lagu baru. Ini adalah tentang membuka kembali lembar-lembar memori, menjemput rasa yang sempat mengendap, dan merayakannya kembali bersama pendengar setia. Di album ke-9 bertajuk Sehidup Semusik di tahun 2026, Andien Aisyah membawa kita kembali pada getaran paling murni dari sebuah perasaan kasmaran lewat single terbarunya, “Naksir”.
Namun, bagaimana sebuah lagu yang dipenuhi getaran warna-warni ini tercipta? Mari mengintip ke dalam studio rekam, di mana tawa, kenangan, dan sentuhan ajaib berpadu menjadi satu.
“Tema ‘Naksir’ ini sebenarnya adalah tema yang aku rasa… apa ya? Kaya semua orang bisa relate,” ungkap Andien hangat di sela-sela sesi rekamannya.
Ada kalanya musik harus menjelajah ke ruang-ruang kontemplatif yang dalam, namun ada kalanya pula musik hanya ingin menjadi teman yang ramah. Andien mengakui bahwa dirinya merindukan lagu-lagu dengan tema yang ringan namun jujur—sesuatu yang sudah lama tidak ia hadirkan dalam diskografinya. Perasaan menyukai seseorang dalam diam, kegundahan yang manis, dan letupan kegembiraan yang sederhana adalah bahasa universal yang disukai siapa saja.
Lihat postingan ini di Instagram
Vibing Era 80-an Bersama Laleilmanino
Untuk mewujudkan visi tersebut, Andien mempercayakan lagunya kepada trio produser bertangan dingin, Laleilmanino (Lale, Ilman, dan Nino). Sejak awal workshop dimulai, mereka sudah memiliki cetak biru (blueprint) yang jelas tentang ke mana arah lagu ini akan dibawa.
“Kita pengen tetep bawa vibes lagu ini nyaman didengar, terus pengen era-era 80-annya ada juga,” tutur Nino.
Nuansa pop-jazz klasik dengan sentuhan instrumen analog yang hangat sengaja disuntikkan. Ketika jemari mulai menari di atas tuts piano dan synthesizer, aransemen itu langsung membawa nuansa retro yang segar namun tetap terasa sangat ‘Andien’.
Proses kreatifnya mengalir begitu organik. Saling melempar ide (tek-tokan) antara Andien, Nino, Lale, dan Ilman melahirkan sebuah keputusan besar: lagu ini harus bercerita tentang fase paling awal dari jatuh cinta, yaitu naksir.
Ada satu fakta unik dan cerdas yang dibagikan oleh tim Laleilmanino di balik penulisan lirik lagu ini. “Kalau mau dicari tahu di dalam lirik lagunya, nggak ada sama sekali kata ‘Naksir’ ya di dalamnya,” ungkap mereka sembari tersenyum.
Meskipun judul lagunya sangat gamblang, kata tersebut justru absen di sepanjang lagu. Sebagai gantinya, mereka memilih pendekatan yang jauh lebih puitis dan visual. Frasa-frasa indah seperti “Setangkai Rasa”, “Kuntum Logika”, hingga “Kuncup Berganti Bunga-Bunga” dipilih untuk menggambarkan bagaimana rasanya ketika logika mulai kalah oleh letupan emosi romantis.
Bagi Andien, pilihan kata ini sangat magis. “Karena emang kalau lo lagi jatuh cinta, kalau lo lagi naksir sama seseorang, kan tuh kaya semuanya tuh… kaya bunga-bunga gitu,” jelas Andien dengan binar mata yang tidak bisa berbohong.
Bagian dari Perayaan “Sehidup Semusik”
Apapun latar belakang kita, sedalam apa pun pengalaman hidup yang telah kita lewati, perasaan jatuh cinta akan selalu mengembalikan kita pada titik yang sama: sebuah perasaan yang membuat dunia terasa lebih berwarna dan berbunga-bunga.
Esensi kebahagiaan universal itulah yang ditangkap dan diabadikan di dalam lagu ini. “Naksir” bukan sekadar lagu pop-jazz yang manis didengar saat bersantai; ia adalah jembatan emosional, sebuah selebrasi kedewasaan Andien yang memilih untuk merayakan 25 tahun kariernya dengan kembali pada keceriaan yang murni.
Melalui sentuhan ajaib Laleilmanino dan vokal Andien yang selalu penuh penjiwaan, “Naksir” siap menjadi salah satu trek paling berkesan di album Sehidup Semusik (2026). Sebuah pembuktian bahwa setelah dua setengah dekade berlalu, musik Andien akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati kita—sama seperti perasaan naksir yang takkan pernah usang dimakan zaman.
Penyanyi, Penulis lagu, Aktris Indonesia multitalenta yang bergenre Jazz, R&B, Soul dan Pop











