Dua dekade lebih berkarya di bidang musik bukan waktu singkat. Kejenuhan, disorientasi, kebuntuan, dan kondisi jatuh-bangun lain menjadi bagian perjalanan seorang Andien.
Kisah perjalanan panjang Andien di blantika musik dirangkum dalam karya terbaru Andien dalam bentuk video musik Melodi Monolog: Dan Lalu. Pertunjukan video musik ini tayang perdana secara gratis di salah satu platform layanan pengaliran digital (streaming) video tepat pada tanggal cantik, 22 Februari 2022.
Kalimat ”Dan Lalu”, menurut Andien, berasal dari terjemahan bebas ”And Then” yang sekilas seperti berima dengan penyebutan nama. Andien. Dalam tayangan video musik itu, Andien menceritakan perjalanan panjang karier bermusiknya lewat dua belas lagu, yang dibawakan dalam tiga babak, yakni Babak Mulai, Lerai, dan Sampai.
Ketiga babak itu mewakili perjalanan hidup seorang manusia, termasuk Andien. Menurut Andien, konsep pertunjukan diambil dari catatan tentang mimpi-mimpi serta imajinasinya.
Lewat narasi-narasi reflektif berupa gerak dan tarian yang mengiringi setiap lagu, Andien mencoba mengajak para penonton lebih dari sekadar ikut menikmati atau bersama-sama menyanyi. Mereka diajak ikut berefleksi serta becermin ke dalam diri masing-masing.
”Konsep ceritanya memang dari aku. Isinya tentang siklus perjalanan manusia. Tapi, di sini aku bukan hanya ingin bercerita (perjalanan) aku sendiri, melainkan juga (supaya) orang lain bisa berefleksi melalui kisah-kisah perjalananku,” ujar Andien, Selasa (22/2/2022).
Babak Mulai berisi lagu-lagu yang menggambarkan segala sesuatu nan indah dan serba berbunga-bunga seperti cinta. Hal itu baginya sama dan mirip seperti awal sebuah perjalanan hidup manusia, yang kerap diisi beragam hal menyenangkan.
Pada Babak Lerai, manusia mengalami penguatan lewat episode-episode dan peristiwa, yang walau menyakitkan, tetapi justru membentuk dirinya sebagai manusia utuh. Pada babak terakhir, Sampai, orang akan tiba pada apa pun tujuan mereka masing-masing.
”Namun, ketika seseorang sudah sampai, bukan berarti dia juga sudah selesai. Makanya di judul pertunjukan ini juga dilanjutkan dengan pertanyaan, dan lalu? Pasti setelah sampai akan ada dan lalunya mau apa kemudian,” tambah Andien.
Kedua belas lagu yang dibawakan Andien dipilih dan dikurasi berdasarkan ketiga pembabakan itu. Andien membawakan lagu-lagunya dari periode tahun 2000-2021, yang diaransemen ulang oleh pengarah musik Lie Indra Perkasa.
Dalam jumpa pers daring, Kamis (17/2/2022), Lie menyebut dirinya membayangkan visual pertunjukan ini seolah perjalanan imajiner menuju dunia lain. Dari situ dia menerjemahkan lagu-lagu yang dibawakan bersifat sinematik, dengan bunyi-bunyian ilustratif nonkonvensional, yang didominasi alat tiup orkes.
Nuansa berbeda pada lagu-lagu Andien yang diaransemen ulang itu sangat terasa kental dengan masuknya beragam instrumen woodwin, seperti bas, klarinet, dan flute, serta instrumen brass, seperti flugel, bass trumpets, dan tuba.
Lagu-lagu yang dibawakan antara lain ”Berlayar”, ”Gemintang”, ”Sahabat Setia”, ”Indahnya Dunia”, ”Detik Tak Bertepi”, ”Selamat Jalan Kekasihku”, ”Belahan Jantungku”, ”Teristimewa”, dan ”Moving On”. Sebagai penutup dipilih lagu ”Pulang”.
Hutan De Djawatan
Proses pengambilan gambar untuk video musik Melodi Monolog: Dan Lalu diambil sepenuhnya di luar ruang. Lokasinya berada di hutan De Djawatan, Banyuwangi, Jawa Timur, yang rimbun oleh pohon-pohon trembesi raksasa, yang daun dan cabangnya nyaris dominan menutupi langit terbuka. Proses shooting video musik yang disutradarai Shadtoto Prasetio ini berlangsung seharian penuh dan melibatkan sekitar 100 orang.

Akibat pandemi di mana orang diharuskan saling menjaga jarak dan menerapkan protokol ketat, aktivitas luar ruang seperti di alam terbuka dinilai sangat cocok menjadi pilihan.
”Aku sudah lama kepingin banget bisa punya pertunjukan di hutan. Jadi dari awal memang enggak ada kandidat tempat lain. Walau budget sebetulnya enggak masuk, beruntung banyak aja yang ngebantu seperti kasih harga-harga spesial dari temen-temen yang mendukung,” tambah Andien.
Andien membanggakan pertunjukan berdurasi 45 menit itu sebagai pertunjukan yang sangat dekat dengan bumi dan alam, yang menjadi tempat untuk memulai segala sesuatu. Perpaduan lirik lagu, musik, gerak, dan tari menjadi satu pertunjukan berisi perjalanan, yang mengasyikkan untuk disimak dan diikuti hingga selesai.
Boleh jadi persembahan Andien tentang perjalanan panjang kariernya selama 22 tahun juga menjadi semacam penanda zaman. Saat kembali menontonnya, setidaknya dua dekade ke depan lagi, orang akan melihat sejatinya karya musikal ini lahir dari sebuah kompromi antara kreativitas dan kondisi pandemi.
”Iya juga, ya. Bisa jadi begitu,” ujar Andien saat berbincang seusai tayang perdana daring video musiknya di salah satu bioskop di kawasan elite SCBD, Jakarta.
Saat ditanya apakah ia berencana menjadikan lagu-lagu dalam video musiknya sebagai materi album fisik seperti vinil, Andien mengaku juga berpikir ke arah sana. Walau berisi lagu-lagu hits lamanya, semua persembahannya kali ini sudah berupa aransemen baru.
Lalu apa selanjutnya Andien?

Kompas.id adalah surat kabar nasional Indonesia di bawah naungan PT Kompas Media Nusantara











